Produksi ikan asin asal Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, mampu menembus pasar di luar daerah. Kabid Industri pada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Lhokseumawe, Henry, di Lhokseumawe, menyatakan, ikan asin dan ikan olahan yang mampu menembusi pasar luar daerah, seperti ikan teri, ikan tenggiri, dan juga ikan kayu. Rabu [7./9/2011].

Disebutkan, ikan asin atau ikan olahan tersebut jangkauan pemasarannya sampai ke Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat, bahkan ada yang sampai ke Pulau jawa, terutama untuk jenis ikan teri kering.

Dikatakan, ikan teri kering kebutuhannya di luar Aceh sangat banyak, karena selain tahan lama, juga mempunyai rasa yang enak, begitu juga dengan ikan kayu atau tenggiri kering.

Menurut data dari Disperindag Lhokseumawe, industri pengeringan atau penggaraman ikan di Lhokseumawe ada 21 unit. Yang tersebar di beberapa lokasi pesisir wilayah Kota Lhokseumawe, seperti di Pusong, yang saat ini menjadi sentra produksi ikan asin dan juga di Ujong Blang, serta beberapa wilayah lainnya.

Ditambahkan Henry, berkembangnya industri pengolahan dan penggaraman ikan di Lhokseumawe, karena wilayah itu hampir sebagian besar adalah pesisir pantai dengan mata pencaharian penduduknya nelayan.

Selain itu, hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Lhokseumawe juga meningkat, sehingga selain dijual sebagai ikan segar atau ikan yang berkualitas ekspor, juga dikeringkan untuk menghindari anjloknya harga ikan.

Apalagi, pada musim ikan teri, hasil tangkapannya bisa menjadi melimpah, tambahnya. “Jika tidak dikeringkan di saat banyak tangkapan ikan, maka akan menjadi turun harganya bila dijual dengan segar. Malah, akan menjadi ‘booming’, sehingga banyak nelayan atau pengrajin ikan asin di pinggir pantai memilih mengawetkan ikannya dan dijual dalam bentuk produk ikan asin,” terang Henry lagi.

Dengan banyaknya hadir industri kecil pengawetan ikan tersebut, selain telah mampu kelebihan hasil tangkapan nelayan, juga telah menciptakan lapangan kerja bagi para warga yang bermukim di sekitar pinggiran pantai, katanya.

Disebutkan, setiap usaha pengeringan ikan tersebut membutuhkan pekerja sampai lima orang, apalagi sedang banyaknya hasil tangkapan ikan oleh nelayan setempat. |AT/Yd/Antara

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.